Dirjenpas Tutup 7th World Congress Probation and Parole di Bali, Best Practices Global Perkuat Bapas
*Bali* – Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, resmi menutup 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Westin Nusa Dua, Kamis (16/04/2026). Hari ketiga sekaligus penutupan kongres ini menjadi momen penting bagi seluruh Balai Pemasyarakatan di Indonesia. Sejak pukul 08.00 WITA di Nusantara Room dan Medan Room, rangkaian plenary session menegaskan satu pesan utama: keadilan bukan soal penghukuman, melainkan kemampuan memulihkan martabat dan membangun kembali kehidupan.
Sesi dibuka oleh Collie F. Brown, Senior Advisor Second Chance Foundation Jakarta, yang menekankan sistem pemasyarakatan sebagai jalur reintegrasi. Ia merujuk praktik terbaik Norwegia dan Selandia Baru yang mengedepankan martabat serta relevansi budaya. Diskusi berlanjut dengan Marina Pajoni, petugas Layanan Pembebasan Bersyarat Prancis (SPIP), yang mengangkat urgensi keadilan restoratif dan koreksi komunitas sebagai solusi overcrowding di lapas. Marco Brok dari Reclassering Nederland turut memperkuat posisi komunitas sebagai jalur utama pemulihan di luar hukuman fisik. Pada sesi “Smart on Justice”, delegasi Belgia dan Belanda membuka ruang pertukaran pengetahuan global untuk mendorong probasi dan reintegrasi sebagai alternatif penahanan yang efektif menekan residivisme.
Dalam sambutan penutup, Dirjenpas Mashudi menyampaikan harapan agar kemajuan probasi dan reintegrasi sosial di tingkat global terus berlanjut demi mewujudkan masyarakat yang lebih aman dan sejahtera. Rangkaian WCPP 2026 diakhiri dengan penyerahan estafet penyelenggaraan WCPP 2028 secara simbolis kepada delegasi Latvia. Bagi jajaran Pemasyarakatan, termasuk Kabapas Tarakan, tugas berikutnya adalah menyerap isu strategis dan best practices dari kongres ini untuk memperkuat fungsi Pembimbing Kemasyarakatan di satuan kerja masing-masing.
Kontributor: BapaSTAR/fld
